Senin, 10 November 2008

Saat Rasa Masih Milik Kita

Aku ingin menatapnya sekali lagi, meyakini rasa yang tersisa.

Tidak Biasa

Menikmati langit senja dengan satu bintang, hmm... masih terasa indah walaupun awan hitam berusaha menutupi cahayanya.
Sayup mengiringi Hingga Akhir Waktu-nya Nineball, semakin membuat pikiranku melayang jauh ke saat dimana rasa masih milik kita.

Aku benar-benar tidak ingin diganggu oleh apapun. Aku hanya ingin menikmati indahnya senja ini dan menikmati suasana hatiku yang entah mengapa masih terus mengingat kamu. Rasa yang begitu dahsyat. Apa, mengapa, slalu pertanyaan itu yang hinggap di kepalaku dan seperti biasa tidak pernah ada jawabannya dan aku hanya berusaha mengerti.

Aku berbahagia atas bahagiamu, aku berusaha. Rasa ini sudah melukaiku berkali-kali hingga rasa sakit itu sudah tidak bisa lagi aku rasakan. Aku tidak menangis karena yang ada hanya sebuah senyum. Sebuah senyum yang akan aku ingat dan akan aku dekap sampai aku menemukan rasa yang seharusnya pantas untuk memiliki.

Makasih tuk mu telah memberikan rasa ini, rasa yang tidak pernah aku lupakan. Karena kamu, aku bisa memahami arti sayang yang sesungguhnya. Memiliki bukan hal yang penting tapi bagaimana bisa memahami arti rasa, itu yang paling penting.

Senin, 03 November 2008

Malaikat Juga Tahu!

lelahmu, jadi lelahku juga
bahagiamu, Bahagiaku pasti
berbagi, takdir kita selalu
kecuali tiap kau jatuh hati

kali ini hampir habis dayaku membuktikan padamu
ada cinta yang nyata, setia hadir setiap hari
tak tega biarkan kau sendiri
meski seringkali kau malah asik sendiri

Namun tak kau lihat, terkadang malaikat
tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
namun kasih ini silakan kau adu
malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya

hampamu takkan hilang semalam oleh pacar impian
tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
tapi siap diuji, kupercaya diri
cintakulah yang sejati

To: Dia yang telah memilih, terima kasih.



aku, kamu, dia dan dirinya

Mendengar suaramu yang tidak bersemangat seperti tadi saat kamu telepon, suntukmu yang aku rasakan entah karena masalah pekerjaan atau masalah hatimu. Kenapa aku merasa bersalah. Terbersit dalam hatiku.
"Seandainya aku tidak hadir dalam hidupmu, mungkin kamu akan baik-baik saja."

Melihat wajah dia kemarin, penuh dengan kebingungan dan berjuta tanya di dalam kepala tanpa bisa dia keluarkan. Dia pun tersenyum dan sesekali memperhatikan wajahku. Entah apa yang ada dibenaknya. Terbersit dalam hatiku.
"Seandainya aku tidak hadir dalam hidupmu, mungkin kamu dan dia akan baik-baik saja."

Mendengar suaranya (cinta) semalam, penuh dengan selidik dan cemburu serta menuntut suatu kebenaran. Entah dari mana beribu serbuk emosi itu menghinggapi isi kepala dan hati saat dirinya (cinta) mendengar nama kamu. Aku benar-benar merasa bersalah. Juga terbersit dalam hatiku.
"Seandainya aku tidak hadir dalam hidupmu, mungkin dia akan baik-baik saja."

Seandainya aku bisa pergi ke masa itu, dimana semua baik-baik saja. Aku akan mendekap masa itu sekuat hatiku. Agar aku lihat lagi sinar kebahagiaan di mata kalian.
Maapkan aku, tanganku tak kuasa tuk menahannya.
Maapkan aku, hatiku tak mampu tuk memendamnya.